Hosea S. Handoyo – Journal header image

Selfishness, is it necessary?

December 9th, 2007 · 6 Comments

Banyak orang bilang, saya egois. Tapi saya bangga dan tidak pernah takut dibilang egois atau selfish atau self centered atau apalah. Selama ini saya tidak masalah bila orang berkata demikian. Sampai kemarin, saya muak karena saya dikatai egois dengan… Aah, never mind. Maka di sini, saya akan menjelaskan satu hal. Mmm, beberapa hal. Ah oke… BANYAK HAL.

Sejak kanak-kanak, kita dipaksa belajar melatih diri melakukan hal-hal yang disukai oleh orang tua dan lingkungan. Tujuannya agar kita diterima, dicintai oleh keluarga. Kalau kita bertindak sesuka hati, bisa jadi timbul rasa benci yang datang dari keluarga dan lingkungan. Siapa yang mau dibenci dan dikucilkan? Akhirnya muncul pengertian yang mendalam pada setiap manusia, bahwa untuk bisa eksis dalam lingkungan, kita perlu dicintai. Dan agar dicintai, kita harus melakukan hal-hal yang disukai oleh lingkungan. Ini memang mirip lingkaran yang sulit dipatahkan. Tetapi kenyataannya memang demikian, keinginan pribadi jadi kalah penting bila dibandingkan dengan kepentingan orang lain. Semakin banyak menyenangkan orang lain, semakin besar perhatian dan cinta yang kita terima. Lalu agar dicintai, kita mendahulukan kepentingan orang lain. Kita diajarkan untuk lebih suka memberi daripada menerima. Tetapi di sisi lain, kita sering berharap menerima perlakuan yang sama. Alias balas budi.

Berapa banyak di antara kita yang sangat ingin disebut baik hati oleh teman-teman. Dan untuk meraih predikat ini, mau tidak mau kita harus melupakan sebanyak-banyaknya kepentingan pribadi dan mengutamakan kepentingan orang lain. Dan karena memang manusia egois, kalau sampai ada yang melupakan jasa baik kita, maka sakit hati pun menyelinap. Bahkan mengumpat, “Dasar tidak tahu diri! Maunya menang sendiri!”

Alkisah Rena dan Sofia. Ketika Rena harus pindah kos karena uang sewanya naik, Sofia langsung membantu mencari tempat baru. Dan selama belum ada yang cocok, Rena boleh tinggal bersamanya. Akhirnya Rena mendapatkan tempat kos baru. Ia pindah. Suatu ketika Sofia harus pindah kos pula karena fasilitas airnya sering mati. Ternyata Rena malah besikap tidak peduli. Karena tak tahan dengan sikap Rena, Sofia pun meledak, “Kamu keterlaluan! Saya sudah berkorban habis-habisan buat kamu. Tapia apa balasannya? Menanyakan saja tidak, apalagi menawari bantuan. Padahal waktu kamu kesusahan, saya rela kamu menginap tanpa membayar apa pun!” Rena terkejut melihat reaksi sahabatnya. Tetapi ia membalas, “Lho, yang menawari semua itu kan kamu sendiri. Saya tidak minta apa-apa, dan tidak menjanjikan mau balas budi. Kenapa tidak tanya dulu, apakah saya memang mau dibantu. Saya bisa cari jalan sendiri. Dan kalau tahu kamu minta balasan seperti ini, saya tak akan mau dibantu! Saya sendiri selalu merasa berat kalau menerima jasa baik kamu. Karena kamu sering mengorbankan diri. Kalau saya harus melakukan yang sama, rasanya berat juga.”

Rena tak salah. Ia tak pernah meminta, tetapi selalu menerima kebaikan hati sahabatnya. Di sisi lain, Sofia menghujani Rena dengan perbuatan mulia karena ingin dicintai. Sayangnya Sofia merasa ia tak kunjung dicintai oleh Rena. Akibatnya perbuatan mulia tetap ia lakukan, berharap Rena bisa mengerti.

Contoh lain lagi. Ketika ibunya meninggal dunia, Shanti yang anak tunggal, menjual rumah keluarga yang super besar di daerah Menteng. Ternyata hal ini ditentang para sahabat yang terbiasa memakai rumahnya sebagai tempat kumpul-kumpul. “Harusnya dia tanya kita dulu. Jangan langsung jual begitu,” kata seorang temannya. Shanti merasa bersalah, dan menimbang untuk membeli kembali rumah tadi. Tetapi untung pacarnya mengingatkan. “Seingat saya, sebelum menjual rumah itu Shanti sudah memberi tahu teman-temannya. Mereka tidak berkomentar apa-apa. Kalau sekarang keberatan, jelas terlambat. Lagipula, apa mereka mau ikut membayar PBB-nya yang sangat tinggi. Itu kan daerah elit dan mahal!” Ketika tahu Santi menjual rumah berikut perabotannya yang serba antik, teman-temannya ribut lagi. Sekali ini Shanti tidak peduli lagi, “Kalau memang mau, silakan ambil saja. Tapi bilang-bilang dulu. Jadi bisa saya sisihkan. Sekarang sudah terlambat. Saya tidak bisa menservis mereka dengan terus menerus mendahulukan kepentingan mereka” katanya.

Menurut teman-temannya, Shanti telah menjadi perempuan egois. Tetapi dalam hal ini, sikapnya bisa dibenarkan. Semua yang dilakukan memang demi kepentingannya. Tidak repot membayar PBB dan mengurus rumah yang super besar. Dengan uang yang ia miliki ia dapat membeli rumah di Menteng dengan ukuran yang lebih kecil.

Kalau saya ditanya, “Deskripsikan olehmu ‘manusia’ dalam satu kata!”. Maka saya akan menjawab: EGOIS. Manusia semuanya egois. Perlu saya ulangi? SEMUAANYAA. Semua sebenarnya dilakukan untuk diri sendiri. Dalam menolong orang saja contohnya. Sebetulnya manusia menolong dirinya sendiri. Tidak percaya? Di bawah ini adalah beberapa beberapa kemungkinaan perasaan yang terjadi dalam pikiran kita ketika menolong orang:
1. Ketika menolong orang, DIRI INI ingin dicap baik hati oleh lingkungan.
2. Ketika menolong orang, DIRI INI ingin dibalas budinya.
3. Ketika menolong orang, DIRI INI ingin dapat pahala (kalau kamu religius).
4. Ketika menolong orang, DIRI INI ingin merasa aman karena bila suatu saat DIRI INI perlu ditolong, akan ada orang yang akan menolong.
5. Ketika menolong orang, DIRI INI mungkin hanya ingin merasa tenang.
Dan lain-lain.


Semuanya egois, bukan?
Tapi menurut saya, egois nomor 5 adalah cara egois paling baik. Misalnya saya menolong orang, saya merasa kasihan dan perlu menolong orang itu. Dan pikiran itu mengganggu saya. Supaya pikiran itu hilang, saya beri pertolongan dari apa yang saya bisa. Dan saya tidak mengharapkan apa-apa karena bila harapan itu tak terpenuhi, saya akan kecewa (ketika saya kecewa, orang itu tidak tahu, dan yang lainnya tidak peduli. Intinya itu merugikan diri saya sendiri). Keinginan saya hanya: Teman tertolong. Saya tenang. Tidak lebih.

Dalam friendship (kasus saya sekarang), orang beranggapan bahwa true friend adalah yang mau berkorban sama banyaknya dengan apa yang telah mereka korbankan (adil seperti ditimbang dengan timbangan) dan lain-lain. Menurut kebanyakan orang itulah friendship. Mengesampingkan kepentingan pribadi sebanyak-banyaknya untuk teman atau orang lain.

Ya, un-tuk o-rang la-in.

“Benarkah?”

Menurut saya, kok seperti berjudi? Semakin banyak kamu bertaruh, sebanyak itu pulalah yang kamu dapat kalau kamu menang. Dalam hal ini justru akhirnya ketulusan yang dipertanyakan. Saya muak. Menurut saya, What’s mine is mine, what’s yours is yours. Pepatah Cina juga pernah berkata, “If you are not for you, who will be?”. Dan buktinya, saya tetap bisa berteman dengan sehat dengan teman-teman saya (yang manusia dan bukan timbangan!) tanpa saya harus berpura-pura baik untuk disenangi.

Maka, lebih baik jadi egois daripada memaksa diri bermurah hati karena ingin disukai orang. Manusia memang makhluk sosial, tapi juga makhluk individu. Semua orang (boleh) egois. Kita hanya perlu menjadi egois dengan cara yang benar dan bukan memaksakan kehendak. Kemudian keinginan kita tetap bisa berjalan berdampingan. Simbiosis mutualisme!

Nah, sekarang silakan berkata bahwa saya egois. Tapi setelah membaca tulisan di atas dan bercermin pada diri sendiri tentunya.

PS: Apakah Kamu dibenci teman-teman di lingkunganmu karena mereka bilang Kamu egois? Tenang. Ayo berteman dengan saya!

===========================================================

Mungkin memang tidak ada salahnya untuk belajar lebih egois dan tidak memanjakan lingkungan sekitar kita… Ada waktunya mereka untuk belajar dan terperosok oleh apa yang mereka lakukan tanpa perlu diperhatikan – kita sama-sama sudah dewasa bukan?

Biarlah ini menjadi suatu dasar perenungan bagi kita bersama!

 

Courtesy of Adityo Budi Putranto 

Tags: Indonesian · Personal · Satire · Society · Thoughts

6 responses so far ↓

  • Caca // Jan 3, 2008 at 3:38 pm

    Hei ,
    I do love your thought about this . Kebetulan bgt sy lg ‘belajar’ menjadi selfish . N tulisan kamu udah menjelaskan semua alasan knp sy hrs berubah dr sweet girl menjadi the selfish one. Orang bilang sy loveable, baru2 ini sy nemuin alasannya. Cos I’ve been trying so hard to entertain everybody. man! capek jg ya… kudu selalu mendahulukan kepentingan,perasaan orng lain drpd diri sendiri. Mngkn sdh waktunya buat sy jd sedikittt egois (& menyebalkan? ) haha…Thanks . it’s so inspire!

    Rgrds,
    Ca

  • xta // Jan 6, 2008 at 11:50 pm

    wuaaaaahhh!!! semangat ya ho!

  • EJ // Mar 1, 2008 at 6:35 am

    gmn ya????
    pada dasarnya memang manusia egois, but kita bisa mencoba untuk melakukan apapun dengan tulus walo mungkin ga bisa perfect..
    berbuat sesuatu hanya untuk menyenangkan orang lain memang capexxzz
    i agree but frenship itu bukanlah timbangan, maybe krn lom dpt org yg bisa memberi arti sebenarnya dr persahabatan itu, kali ^_^

  • Qky // Jun 6, 2008 at 8:36 am

    ini menarik… kalo pendapat saya ini cuman soal persepsi tata nilai. menyenangkan diri sendiri tanpa melukai hati orang lain tentu benar, tapi menyenangkan orang lain tanpa melukai hati kita sendiri juga benar.

    Menjadi diri kita ( dengan segala kebenaran cara pandang kita) di antara kebenaran cara pandang lingkungan (teman, keluarga, bahkan negara) adalah jelas. Kenapa? Karena apa yang kita lakukan, tanggung jawab adalah milik kita sepenuhnya.

    Tapi yg namanya bermasyarakat butuh “tarik-ulur” kepentingan. ITULAH SENI HIDUP.

    NICE POST!

  • Hosea Saputro Handoyo // Jun 7, 2008 at 11:16 am

    Qky,

    Salam kenal yah, ingin tanya saja satu hal ‘tata nilai’ bukankah ini juga pada dasarnya dibuat orang-orang untuk ‘menyenangkan’ orang lain?

    Seni hidup, hmm, seperti tarik tambang kali yah? Apapun yang kita lakukan memang tangung jawab kita sepenuhnya, apakah kebanyakan orang mau bertanggung jawab atas kesusahan yang dia buat untuk orang lain? Saya rasa tidak…

  • Merokok? Hak Gue! « KapurTulis // Aug 30, 2008 at 7:44 am

    [...] kalian bertanggung-jawab jika sebelahmu itu asmanya kambuh hanya karena hakmu? Yaah, seperti kata Hosea (pinjem ya)..”semua manusia [...]

Leave a Comment