Hosea S. Handoyo – Journal header image

On Living Abroad: Family

August 13th, 2010 · No Comments

Banyak orang merasa hidup di luar negeri itu enaknya bukan main, mulai dari gaji besar dan hidup yang nyaman. Mereka tidak melihat bahwa hidup di luar negeri sebetulnya jauh lebih keras dibandingkan di dalam negeri (baca: Indonesia). Saya meninggalkan Indonesia tahun 2004 dan kembali sebentar tahun 2005, 2007, dan 2009. Apa yang saya lihat adalah kehidupan foya-foya yang akhirnya membuat saya mengalami ‘culture shock’ dan inilah yang membuat saya ‘malas’ untuk kembali ke Indonesia.

Di lain pihak, satu hal yang membuat saya berat untuk meninggalkan Indonesia adalah keluarga. Kita harus mengakui, sejelek-jeleknya keluarga kita, mereka masih keluarga kita. Anda bisa bayangkan seberapa sedihnya seorang anak bila mendengar salah satu kerabat apalagi orang tuanya sakit – begitu pula sebaliknya.

Bila saya tinggal di Singapura atau Malaysia mungkin tidaklah begitu bermasalah tapi tinggal di Eropa atau Amerika yang jarak tempuh kembali ke rumah minimal 18 jam tentu menjadi ‘concern’ tersendiri. Skype, facebook, or telepon sudah banyak membantu tetapi semuanya itu tidak bisa menggantikan arti sebuah pelukan.

‘Yah, tidak usah tinggal di luar negeri dong!’. ‘Well, I am fully aware that this is the consequence…’ Sometimes I wish we could teleport anywhere in a blink. Oh, Doraemon, pinjam ‘Pintu Kemana Saja!!!’

————————————————————————————————————-

Many people feel that living abroad is absurdly sweet, from big salary and a comfortable life. They do not see that life abroad is actually much harder than in the country (read: Indonesia). I left Indonesia in 2004 and came back for a short time in 2005, 2007, and 2009. What I see now is a hedonistic lifestyle that made experiencing ’culture shock’ in my own country and this is what makes me ‘reluctant’ to return to Indonesia.

On the other hand, the one thing that makes me hard to leave Indonesia is my family. We must admit, no matter how bad our families are, they are still our family. You can imagine how sad sons and daughters when they hear that one relative is ill or worse their parents (- and vice versa).

If I lived in Malaysia or Singapore perhaps it would not be so problematic, but staying in Europe or the United States which home mileage of at least 18 hours would be a ‘concern’ of its own. Skype, Facebook, or phone has been quite helpful but it was not able to replace a hug.

‘Then, don’t live abroad!’. ’Well, I am fully aware That this is the consequence …’Sometimes I wish I could teleport anywhere in a blink like in Star Trek. Oh, Doraemon, lend me ‘Anywhere door! Please please please…”

→ No CommentsTags: A Small Note of Life · English · Indonesian · Personal · Thoughts

Scribbles: Ke-Kristen-an Masa Kini (I)

February 13th, 2010 · 2 Comments

Berlanjut dari diskusi tadi dalam dengan seorang teman di gereja mengenai apa yang harus diajarkan oleh para ‘gembala’ kepada ‘domba-domba’-Nya. Saya menyebut ‘Gembala’ karena ini tidak hanya mencangkup gembala sidang, uskup, dan pastur tapi perangkat gereja itu sendiri seperti pemimpin kaum muda atau ‘youth’ dan juga para pemegang misi penginjilan. Ke-kristen-an yang dimaksud di sini tidak hanya berlaku pada Kristen Protestan tetapi seluruh denominasi termasuk Kristen Katolik yang mengaku mengikuti teladan Kristus sebagai Tuhan – bahkan posting ini (bila Anda berkehendak) dapat diartikan untuk seluruh aliran kepercayaan lainnya.

Beberapa bulan ini, saya ‘mencicipi’ dua gereja yang memiliki ke-khas-an masing-masing Sebut gereja A dan gereja B. Gereja A mendidik jemaatnya dengan gayanya yang bebas dalam ‘praise-and-worship’ a la Hillsong dan khotbahnya yang cukup sederhana, cukup 20 menit saja. Hampir setiap minggu bahasannya selalu berkisar tentang ‘self-empowerments’ berdasarkan Alkitab (walaupun pola penafsirannya terkadang saya ragukan mengingat comot ayat sana dan comot ayat sini).

Gereja B merupakan gereja yang cukup Kalvinistik dan ‘praise-and-worship’ masih memegang kitab kidung jemaat. Menariknya, gereja B mendidik jemaatnya dalam system pengajaran teologi dan filsafat seperti bagaimana menafsirkan kitab-kitab ‘sensitif’ seperti Kidung Agung yang bertemakan puisi cinta dan sesekali tentang ‘self-empowerment’ – yang ini dalam 45 menit.

Saya secara pribadi sangat menyukai ‘praise-and-worship’ gereja A tetapi cukup ‘kering’ dalam pengajarannya. Saya bertumbuh dalam pengajaran di gereja B walaupun sedikit kurang-sreg dalam ‘praise-and-worship’ – tetapi tetap ‘enjoy’ dengan segala merit-nya di gereja B. Buat saya, denominasi dan style yang ada saat ini adalah cara ‘The Big Boss’ menampilkan berbagai macam cara bagi ‘domba-domba’-Nya untuk memuji dan menyembah sesuai dengan gaya-nya masing-masing – selama masing-masing denomiasi tidak saling menggangap sesat satu sama yang lain. Bagi yang muda senang lompat-lompat, biarlah mereka melompat-lompat dan bertepuk tangan. Bagi yang ingin lebih khusyuk, mari silakan memuji dan menyembah dengan hymns dan puisi. Bukankah Tuhan melihat hati, bukan dengan apa kita memuji dan menyembah?

Dalam sebuah sebuah diskusi dengan Lukas (nama samaran) dari gereja A yang cukup liberal, saya mengungkapkan ‘kekeringan’ saya dalam pengajaran. Lukas berpendapat bahwa gereja-gereja seharusnya seperti gereja A yang mampu membuat ‘Firman Tuhan’ accessible bagi khalayak umum dan bukan berkutat dengan teologi apalagi filsafat. Argumen Lukas diambil dari 1 Tim 4:7 ‘But refuse and avoid irreverent legends (profane and impure and godless fictions, mere grandmothers’ tales) and silly myths, and express your disapproval of them. Train yourself toward godliness (piety), [keeping yourself spiritually fit]..’ (AB). ‘Yang penting, faith!’, katanya. Saya hanya bisa tersenyum. Inilah yang saya takutkan dari ‘over-dedication’ terhadap sebuah ‘pola pikir’. Fair enough, bahwa iman itu penting tetapi sampai kapan ‘domba-domba’ ini akan terus ‘di-nina-bobok-kan’? Untuk bertumbuh, seorang bayi pun harus mendapatkan makanan yang keras. Gereja A bertumbuh dengan sangat pesat di kota Dundee yang rata-rata melek sains dan dalam beberapa tahun ini berkutat dengan debat ‘evolusi vs Tuhan’. Salah satu concern saya adalah seberapa siap jemaat gereja A meng-encounter ide-ide atheistic sains yang sedang berkembang? Gereja B sangat ‘aware’ dan kini mulai mempersiapkan generasi mudanya dengan argumen-argumen sederhana yang mampu menjelaskan duduk perkara ide-ide atheistic sains. Saya sangat menyayangkan bahwa gereja A menganggap remeh kondisi sosial yang sedang berkembang. Bukankah ini salah satu penyebab kemunduran gereja di masa lalu? Gereja-gereja tidak sensitive lagi dengan paham-paham yang ada di masyarakat? Saya tidak setuju dengan acara-acara demonstrasi di depan balai kota atau jalan-jalan untuk mengingatkan orang-orang seperti yang dilakukan saudara Muslim kami kebanyakan. Bukankah lebih baik dengan memberikan didikan yang benar?

St. Paul justru berkata dalam suratnya kepada jemaat di Roma bahwa kita diminta ‘berbeda dengan dunia’ tetapi kita diminta berubah sesuai dengan dengan pembaharuan budi kita sehingga kita dapat membuktikan pada diri kita dan juga orang lain akan kebenaran itu. Nah, bagaimana kita dapat melakukan pembaharuan kalau pola pikir kita masih tekungkung dengan pola ajaran ‘yang penting iman dan tak usah pedulikan yang lain’? Roma 12:2 berkata ’Do not be conformed to this world (this age), [fashioned after and adapted to its external, superficial customs], but be transformed (changed) by the [entire] renewal of your mind [by its new ideals and its new attitude], so that you may prove [for yourselves] what is the good and acceptable and perfect will of God, even the thing which is good and acceptable and perfect [in His sight for you].’ (AB)

In summary, CS Lewis dalam bukunya ‘Mere Christianity’ (1952) menyimpulkan dengan baik melalui gambaran bahwa seorang Kristiani (bukan seseorang ber-agama Kristen) berada dalam sebuah negeri yang terjajah

“Enemy-occupied territory–that is what this world is. Christianity is the story of how the rightful king has landed, you might say landed in disguise, and is calling us all to take part in a great campaign of sabotage. When you go to church you are really listening-in to the secret wireless from our friends: that is why the enemy is so anxious to prevent us from going. He does it by playing on our conceit and laziness and intellectual snobbery. I know someone will ask me, ‘Do you really mean, at this time of day, to re-introduce our old friend the devil-hoofs and horns and all?’ Well, what the time of day has to do with it I do not know. And I am not particular about the hoofs and horns. But in other respects my answer is ‘Yes, I do.’ I do not claim to know anything about his personal appearance. If anybody really wants to know him better I would say to that person, ‘Don’t worry. If you really want to, you will. Whether you’ll like it when you do is another question.” (MC, The Invasion, p46)

What do you think?

→ 2 CommentsTags: Indonesian · Personal · Society · Theism · Thoughts

Welcome 2009!

December 31st, 2008 · 2 Comments

Sometimes I wonder how and why I came this far in my life (see my previous post). Approaching the end of 2008, I review myself. I realize, 2008 is one of the most important years in my life:

2008 was The Year of The Biggest Decision

Some important events:

  1. Realization of iBiotech, Grand Biotechnology Road Show in four different cities with GeNeYouS and IBSF with more than 3000 students participating and various supports from from different government bodies, companies, and universities (March);
  2. Accepted to pursue Ph.D in MRC PPU with Prof. Sir Philip Cohen for the next 3 years (until 2011) (May);
  3. Receiving my Bachelor degree (Ba./ing.) from HAN University of Applied Sciences with cum laude (July);
  4. Taking my parents to get their first ‘tour’ around western Europe (Aug-Sept), and
  5. Awarded Boehringer-Ingelheim Fellowship and also MRC-PPU Studentprize, Discovery Scholarship and College of Life Sciences Bursary to support my Ph.D financially. (August-November)

Several things that I still have to improve in 2009.

  1. Communication English (writing/presentation) skills especially critical-thinking in analyzing (scientific) papers;
  2. Patience, adrenalin and testosteron rush, I need to be more patient and less procastinating;
  3. Try to simplify my schedule, get more priorities and focus to my study and Ph.D research

Things I want to do (if possible):

  1. Taking French language course;
  2. Possibility of taking MBA or Science and Policy degree (part-time); and
  3. Adapting to British ‘organizational-style’ - less “serious” - than in The Netherlands/EU

“My Hall of Fame 2008″:

  1. My family for their continous support;
  2. Prof. Sir Philip Cohen for his mentorship throughout the year;
  3. Dr. Remko Bosch for his guidance in preparing my career;
  4. Audrey Clarissa, Alstair Bharata, Michael Putrawenas, Terry Vrijenhoek, Jenny Wang, Kalman Wijaya, and Listya Karyadi for all your work, collaboration and support in all aspects of organizations;
  5. Andy McLean for the photography sessions
  6. and others whom I cannot named one-by-one. You know you will always be remembered!

Trivial things:

  1. Weight: 64 kg (2007)// 63kg (2008)
  2. Height: 172cm (2007) // 173.8 (2008)
  3. Eyesight: from -6.5 (2007) // -7.5 (2008)
  4. Seminars and training: 38 seminars (2007) // 63 seminars (2008)
  5. Website visitors: 21500 visits/24000 hits (2007) // 32000 visits/369000 hits (2008)

How about your resolutions? Shall we keep reminding each other? I explicitly put my resolutions here so people can be my witness and serve as social contract. Feel free to drop a comment or email if you have more constructive critics for me ;)

Let’s keep the good work! Oremus pro invicem…

Previous years: 2005, 2006 & 2007

→ 2 CommentsTags: Announcement · English · Indonesian · Intermezzo · Personal · Satire

Teh bukan Gelasnya

December 13th, 2008 · No Comments

TC

Pada suatu pagi Romo mengundang umat lingkungan kami dalam suatu pertemuan di Pastoran, beberapa rekan yang diundang adalah orang yang sudah mapan dan mempunyai karir yang cukup gemilang, dan setelah mengucap salam; pagi itu semua bercerita tentang keluhan masing-masing atas kehidupan terutama paska kenaikan BBM, tentang susahnya hidup, dll.

Seperti lazimnya Romo menyuguhkan teh panas dalam sebuah teko, tapi uniknya Romo menyediakan berbagai jenis gelas dari porselin, plastik, gelas kristal, gelas biasa; beberapa diantaranya gelas mahal dan beberapa lainnya yang sangat indah kemudiaan Romo mengajak para peserta pertemuan untuk menuang sendiri dan memilih sendiri gelas yang diinginkannya.

Setelah semua hadirin mendapat segelas teh di tangan, Sang Romo berkata:   “Jika kalian perhatikan, semua gelas yang indah dan mahal telah diambil dan yang tertinggal hanyalah gelas biasa yang murah saja. Meskipun normal bagi kalian untuk mengingini hanya yang terbaik bagi diri kalian, tapi sebenarnya itulah yang menjadi sumber masalah dan stress yang kalian alami.”

“Pastikan bahwa gelas itu sendiri tidak mempengaruhi kualitas teh yang ada. Dalam banyak kasus, itu hanya lebih mahal; dan dalam beberapa kasus bahkan menyembunyikan apa yang kita minum.

Apa yang kalian inginkan sebenarnya adalah teh manis tersebut bukan?,  bukanlah gelasnya; namun kalian secara sadar mengambil gelas paling baik dan kemudian mulai memperhatikan gelas orang – orang lain.

“Sekarang perhatikanlah bahwa : kehidupan bagaikan teh manis, sedangkan pekerjaan, uang dan posisi dalam masyarakat adalah gelasnya. Gelas sebagai alat untuk memegang dan mengisi kehidupan. Jenis gelas yang kita miliki tidak mendefinisikan atau juga mengganti kualitas kehidupan yang kita hidupi. Sering kali, karena berkonsentrasi hanya pada gelas, kita gagal untuk menikmati teh manis hangat yang Tuhan sediakan bagi kita.”
Tuhan memasak dan membuat teh manis, bukan gelasnya. Jadi nikmatilah teh manisnya, jangan gelasnya.

Sadarilah jika kehidupan Anda itu lebih penting dibanding pekerjaan Anda.  Jika pekerjaan Anda membatasi diri Anda dan mengendalikan hidup Anda, Anda menjadi orang yang mudah diserang dan rapuh akibat perubahan keadaan. Pekerjaan akan datang dan pergi, namun itu seharusnya tidak merubah diri Anda sebagai manusia.
Pastikan Anda membuat tabungan kesuksesan dalam kehidupan selain dari pekerjaan Anda.

→ No CommentsTags: Indonesian · Personal · Quote of The Day · Satire · Society · Theism · Thoughts

Friends…

October 19th, 2008 · 1 Comment

Grace-Jason-Yvonne.. I can still recall how silly we all met each other. It was all started in English First, the place where we had English course. I was still in junior high – with blue shorts and white shirts – rushing into ‘Elementary’ Level with Agung as my first teacher and Ashley as my first native English teacher. You are my older-brothers and sisters for me. I put the photo from our ‘reunion’ in 2006 – pity our ‘lunch’ last March was not properly documented. We should go for another photo studio! ;) They have played important roles in shaping my characters and perspectives.

Yvonne. She is the one who knows me the most – how I evolved ’till high school. She is the one who inspires me to pursue (bio)chemistry. Helped me a lot with mnemonics in memorizing the periodical table. She is also the one who motivates me to speak Dutch aside from English. Now our smallgroup (except Grace) can communicate both in English and Dutch (maybe French next?) She is trully my big sister – I wonder more than 10 years age-gap between us but we can still ‘click’. Now, I would like to wish her success with her upcoming wedding (finally after the long winding (love) road… :) )

Grace. I still remember Kian Egan’s phone call (a member of Westlife boyband) and the accounting course after the class. You have helped me a lot. We used to swapped ‘recorded cassette’ about our favorite songs and many other things including the ‘unfortunate event’ when you got snatched… With Yvonne, we used to exchange our diaries and writing stories together.

Jason. Our air-force guy who is longing for een meisje (a Dutch girl). I guess what makes our bonds strong is the ‘drama’ about the fairy mother that we did at Level 12 for Gill. I should have scan the photo! It was hilarious but I did enjoy that. WIth Yvonne, we shared th same Dutch teacher (Mvr. Sapardan)… Jason is trully an amazing guy. Sometimes can be very serious and sometimes can be very funny. Zullen wij naar Nederland samen nog een keer? Success!

I also miss Shanty who are missing until now …O ja, I still keep your ‘farewell’ card to me before I went to The Netherlands. Graciously on my desk now. A remembrance of a true friendship…

→ 1 CommentTags: Indonesian · Organization · Personal · Quote of The Day · Satire · Theism · Video Clip